DMI.OR.ID, JAKARTA – Pertunjukan 1.001 angklung akan memeriahkan acara penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa Nasional (MN) XIV di balairung kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Jum’at (7/8).

Direktur Kemahasiswaan UI, Dr. H. Arman Nefi, SH, MH, yang juga Ketua Panitia MTQMN XIV menyatakan hal itu pada Kamis (23/7) siang, saat diwawancarai DMI.OR.ID di kampus UI, Depok.

“Insya Allah, akan ada pertunjukan 1.001 angklung saat penutupan MTQMN XIV nanti. Jadi, kami harapkan 1.001 peserta MTQMN XIV nanti akan memainkan angklung secara bersamaan. Hal ini bertujuan meningkatkan kebersamaan antar peserta, juga sebagai salam perpisahan agar timbul kesan tersendiri,” tutur Arman pada Kamis (23/7).

Menurutnya, pagelaran angklung ini juga bertujuan mengangkat kearifan lokal bangsa Indonesia. Angklung itu memang sangat luar biasa baik dari segi nada, kerja sama, keindahan dan aspek-aspek lainnya. “Banyak hal yang dapat kita pelajari dari alat musik angklung,” ungkap Arman sambil tersenyum.

Sekitar 2.500 mahasiswa baru UI, lanjutnya, juga akan hadir dan ikut serta memeriahkan acara pembukaan MTQMN UI XIV di balairung Kampus UI, Depok. Panitia mengerahkan mahasiswa baru UI yang tinggal di sekitar Jabodetabek, jadi tidak semua hadir karena masih masa liburan.

Rangkaian acara MTQMN XIV ini, lanjutnya, juga akan diikuti dengan Seminar Nasional bertajuk Al-Qur’an dan Peradaban pada Kamis (6/8) siang di Ruang Seminar lantai 6, Pepustakaan Kampus UI, Depok.

“Insya Allah, akan hadir Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, MA, dan mantan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA, sebagai narasumber,” jelas Arman.

Adapun moderatornya adalah guru besar UI bidang Ilmu Komunikasi, Prof. Dr. Ibnu Hamad, M.Si. Beberapa negara sahabat yang mayoritas berpenduduk Muslim, paparnya, juga akan turut serta dalam pertunjukan seni dan budaya khas Islami mereka, seperti Turki, Iran dan Singapura, serta beberapa negara ASEAN seperti Brunei Darussalam dan Malaysia.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani