DMINEWS, JAKARTA – Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (AHSIN) menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Muslim sebesar 2,1 juta jiwa pada 2015 ini.

Sedangkan pada 2019 nanti, AHSIN menargetkan jumlah kunjungan mencapai 20 juta wisman Muslim.

Ketua Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (AHSIN), Riyanto Sofyan, menyatakan hal itu pada Senin (27/4), seperti dilansir laman http://m.koran-sindo.com.

“Semua target dapat tercapai dengan catatan seluruh ‘stakeholder’ berkomitmen membangun dan menyiapkan infrastruktur, ketersediaan produk berlabel halal, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung wisata syariah,” tutur Riyanto.

Menurutnya, berdasarkan fakta yang ada saat ini, hotel syariah besertifikat baru ada 37 hotel. Sebanyak 150 hotel juga menuju operasional syariah. Sedangkan restoran, dari 2.916 restoran, baru ada 303 yang besertifikat halal.

“Sebanyak 1.800 restoran telah mempersiapkan diri sebagai restoran halal. Adapun tempat relaksasi, SPA, saat ini baru berjumlah tiga unit. Sebanyak 29 SPA sedang berproses untuk mendapatkan sertifikat halal,” jelas Riyanto.

Berdasarkan data Global Muslim Travel Index pada 2013, ungkapnya, tingkat kunjungan wisman muslim Indonesia berada di ranking keempat di tingkat ASEAN, dengan jumlah kunjungan wisatawan muslim 1,7 juta.

Jadi, ujarnya, pariwisata Islam di Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang sudah mendapatkan kunjungan wisatawan Muslim sebanyak 6,1 juta wisman, Thailand sebanyak 4,4 juta wisman, dan Singapura sebanyak 3,9 juta wisman.

“Dilihat dari skor tingkat dunia, Indonesia berada di urutan keenam dengan skor 67,5. Adapun di posisi teratas tetap Malaysia, skornya 83,8,” jelasnya.

Padahal, paparnya, banyak sekali tempat bersejarah bernuansa Islam di Indonesia. Tempat itu sangat potensial untuk dijadikan tempat wisata syariah.

Melihat potensi ini, tidak aneh jika pada tahun 2019 Indonesia menargetkan jumlah wisatawan Muslim mencapai 20 juta orang.

Meskipun Indonesia terkenal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak dan situs bersejarah Islam juga tidak sedikit, namun dari segi kunjungan wisatawan muslim, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara- negara ASEAN seperti Malaysia.

Riyanto pun menekankan bahwa wisata syariah itu bukan sekedar wisata ziarah. Wisata syariah lebih kepada wisata konservatif yang memenuhi kebutuhan wisatawannya dari kalangan Muslim.

“Kebutuhan itu seperti produk makanan dan minuman yang harus halal. Aksesibilitas dalam melaksanakan ibadah pun harus diperhatikan,” tuturnya.

Para wisatawan, lanjutnya, juga perlu mendapatkan jaminan melaksanakan ibadah salat dengan baik, apakah dijamak atau tidak. Termasuk mendapatkan akses kemudahan untuk bersuci dengan air dan lingkungan.

Hal penting lainnya, ungkap Riyanto, masyarakat di tujuan wisatanya harus memberikan kenyamanan bagi pengunjung dan tidak mengganggu kaidah ke-Islam-an.

“Perlu diingat bahwa wisata syariah ini bukan berarti wisata nonmuslim tidak boleh mengikutinya. Boleh saja, tetapi di lokasi wisata tidak akan dijumpai minuman beralkohol dan hiburan malam dan sebagainya,” tambahnya.

Sajian makanannya pun ramah dan dapat dikonsumsi semua kalangan. Berdasarkan rangking tingkat di ASEAN, rata-rata jumlah kunjungan wisatawan muslim baru mencapai 1,7 juta wisman.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani