DMI.OR.ID, JAKARTA – Sejumlah tokoh agama samawi dari berbagai negara menjadi narasumber dan peserta dalam kegiatan The 6-th World Peace Forum atau Forum Perdamaian Dunia Keenam di Jakarta sejak Selasa (1/11) malam hingga Jumat (4/11).

Dalam konferensi ini, nilai-nilai profetik, agama (religi), dan hak asasi manusia (kemanusiaan) menjadi faktor yang sangat penting untuk didiskusikan dan dipadukan guna mewujudkan perdamaian dunia yang adil dan beradab.

Artinya, segala bentuk ekstrimisme, terorisme, dan kekerasan tidak dapat diterima oleh masyarakat internasional yang damai, adil dan beradab serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Dalam konteks ini, perempuan dan anak-anak dipandang sebagai subyek yang berperan vital dalam mewujudkanperdamaian dunia, bukan sekedar obyek yang bersikap pasif.

Beberapa tokoh agama samawi yang hadir adalah Wakil Ketua Australian National Dialogue of Christians-Moslems-Jews (Dialog Nasional Australia untuk Muslim-Kristen-Yahudi), Australia, Dr. Jeremy Jones, dan aktivis Shahbaz Bhatti Memorial Trust for Religious and Cultural Pluralism (Pluralisme Budaya dan Agama), Pakistan, Rev. Lesley-Anne Leighton.

Tokoh agama lainnya yang menjadi narasumber adalah pimpinan Pusat Dialog Antar Agama (Center for Interreligious Dialogue), Teheran, Republik Islam Iran, Dr. H. Mohammad Hossein Mozaffari, dan Deputi Koordinator Kelompok Visi Strategis (Group for Strategic Vision) “Russia-Dunia-Islam” (Russia-Islamic World), Mr. H. Renat Boranukov.

Hadir pula Wakil Presiden (Wapres) Konferensi Agama-Agama Asia untuk Perdamaian (Asian Conference of Religions for Peace/ ACRP), Prof. Desmond Cahill, dan pemimpin Apostolic Vicar (Keuskupan Apostolik) di Arabia Utara, Bahrain, Bishop Camillo Ballin, serta Imam Besar Masjid Al-Hikmah, New York, Amerika Serikat (AS) Dr. H. Muhammad Shamsi Ali.

Konferensi internasional ini mengambil tema: Countering Violent Extrimism: Human Dignity, Global Injustice, and Collective Responsibility atau Melawan Kekerasan Ekstrimisme: Martabat Kemanusiaan, Ketidakadilan Global, dan Tanggung Jawab Kolektif.

Acara ini juga mengusung tag line (gagasan): One Humanity, One Destiny, dan One Responsibili -ty atau Satu Kemanusiaan, Satu Tujuan, dan Satu Tanggung Jawab.

Konferensi internasional dua tahunan ini telah dibuka secara resmi oleh Presiden RI, Ir. H. joko Widodo,pada Selasa (1/11) malam di Jakarta. Turut hadir dan memberikan pidato pembukaan Presiden (Chairman) CDCC, Prof. Dr. H. Muhammad Siradjuddin Syamsuddin, M.A., yang juga Wakil Presiden Religions for Peace (Agama-Agama untuk Perdamaian).

Beberapa tokoh internasional lainnya juga memberikan kata sambutan, yakni Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, serta Pendiri dan Pemimpin Cheng Ho Multicultural Education Trust, Datuk Tan Sri Lee Kim Yew.

Konferensi ini dibali menjadi enam sesi panel dengan tematema sebagai berikut: Pertama, Violent Extrimism and The Damage to Human Dignity (Ekstrimisme Kekerasan dan Kerusakan terhadap Martabat Kemanusiaan), Kedua, Global Injustice as Primary Drive of Violent Extrimism (Ketidakadilan Global sebagai Pemicu Utama Ekstrimisme Kekerasan).

Ketiga, Human Dignity and Global Injustice (Martabat Kemanusiaan dan Ketidakadilan Global), Keempat: State Responsibility to Overcome Violent Extrimism (Tanggung Jawab Sosial untuk Menghadapi Ekstrimisme Kekerasan).

Kelima: Women and Community Responsibility (Perempuan dan Tanggung Jawab Komunitas), serta Keenam: Community Responsibility (Tanggung Jawab Komunitas).

Forum internasional ini ditutup secara resmi oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, H.E. Dra. Hj. Retno Lestari Priansari Marsudi, S.I.P., L.L.M., dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukkam) RI, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani