DMI.OR.ID, JAKARTA – Gerakan Cinta Masjid (GCM) yang diselenggarakan bersama oleh Baitul Maal Muamalat (BMM) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menargetkan 1.000 masjid untuk dibenahi pengelolaan atau manajemennya dalam kurun waktu lima tahun mendatang, sejak akhir bulan Agustus 2015 hingga 2020 nanti. Setiap tahun ditargetkan 200 masjid dalam program GCM ini.

Manajer Penghimpunan Baitulmaal Muamalat (BMM), Asghaf Abdillah, menyatakan hal itu pada Sabtu (29/8) pagi di Hotel Sofyan, Jakarta, dalam workshop GCM bertema Memaksimalkan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Peradaban.

“Kita berharap setidaknya 1.000 masjid dalam program GCM ini sejak akhir Agustus 2015 hingga 2020 nanti. Mimpi ini tidak muluk-muluk. Kita pecah dengan alokasi sekitar 200 masjid per tahun. Mari bersama mengharmonisasikan jama’ah, masyarakat dan pengurus masjid. Kalau jalan masing-masing, program GCM ini tidak akan efektif, small is beautiful, big is powerfull,” tutur Asghaf pada Sabtu (29/8).

Presiden Soekarno, lanjutnya, pernah berujar Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku guncang dunia. “Dengan program GCM, kami yang masih muda-muda ini ingin mengajak ummat untuk bersama-sama mencintai masjid. Mengapa? karena program GCM adalah instrumen investasi akhirat,” ungkapnya.

Menurutnya, BMM berharap agar program GCM ini mampu melahirkan para hafidzh Al-Qur’an dari masjid-masjid yang melaksanalan program-program GCM. Para hafidz Qur’an jangan hanya lahir dari pesantren-pesantren saja, tetapi juga dari masjid-masjid sebagai pusat aktivitas ummat Islam.

“Dalam program GCM ini, BMM akan berupaya memberdayakan ekonomi ummat di sektor riil dengan basis masjid. Instrumen ekonomi ini sangat penting untuk menyelamatkan ummat dari kekafiran, apalagi nature (kompetensi) BMM berasal dari perbankan yang mengkhususkan diri untuk memberdayakan ekonomi ummat,” jelasnya.

Hingga saat ini, ujarnya, BMM telah melaksanakan program GCM di 17 kota dan kabupaten di berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Tujuannya ialah mewujudkan pembangunan masjid yang mandiri, makmur dan profesional dalam berbagai bidang, khususnya dalam hal pengelolaan (manajemen) dan sumber daya manusia (SDM) masjid.

Saat ini, paparnya, masih banyak pengurus masjid yang tidak profesional dan bangunan masjid yang kurang elegan serta jama’ah masjid yang tidak makmur. “Program GCM akan berupaya mencari solusi dan mengatasi berbagai masalah itu, termasuk dengan konsep fund raising dari masyarakat,” ucapnya.

Insya Allah, GCM akan berupaya membenahi manajerial masjid agar profesional dan sesuai dengan standar internasional (ISO), serta memberdayakan ekonomi sektor riil sehingga jama’ah dan masyarakat di sekitar masjid hidup makmur,” katanya.

Asghaf pun berharap masjid benar-benar hidup bersama jama’ahnya dalam program GCM ini. Masjidnya hidup pada saat sholat Shubuh dan Isya dengan jama’ah lebih dari satu shaff. GCM akan mengajak masyarakat untuk berkontribusi membenahi masjid, misalnya mengganti sajadah yang tidak layak pakai.

Dalam workshop ini Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), KH. Masdar Farid Mas’udi, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman tentang GCM dengan Direktur Eksekutif Baitul Maal Muamalat (BMM), Ir. H. Iwan Agustiawan Fuad, M.Si., pada Sabtu (29/8) siang di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta.

Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh beberapa pengurus PP DMI seperti Ketua Bidang Departemen Sarana, Hukum dan Waqaf PP DMI, Drs. H. Muhammad Natsir Zubaidi, Sekretaris Departemen Kesehatan, Lingkungan Hidup dan Kepemudaan, Ir. Hj. Jaorana Amiruddin, M.Si., Sekretaris PP DMI, Dr. Ir. H. Ifan Haryanto, M.Sc.

Hadir pula Sekretaris Departemen Komunikasi, Informasi (Kominfo), Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri PP DMI, H. Hery Sucipto, Lc., MM., Bendahara PP DMI, Dra. Hj. Dian Artida., Sekretaris Departemen Sosial, Kemanusiaan dan Kesejahteraan Ummat, Drs. H. Erizal Rivi, APTH., dan Ketua Umum Badan Pembina Taman Kanak-Kanak Islam (BPTKI), Dra. Hj. Siti Fatimah Abdul Manan, SH, MM.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani