Gerakan Nasional Cegah COVID-19, Semakin Nyata Tetapi Semakin Mengkhawatirkan

Oleh : Dr. Abidinsyah Siregar, D.H.S.M., M.Kes.

Widyaiswara Ahli Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dpk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI)

Alumnus Public Health Management Disaster, Thailand

Wakil Ketua Tim Nasional Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19 Dewan Masjid Indonesia

Indonesia sedang berpacu, berlomba cepat dan bertahan sekaligus memenangkan pertarungan menghadapi pandemi virus corona jenis baru atau Covid-19.

Berbagai kebijakan, pengorganisasian, tindakan dan evaluasi sedang berjalan. Sementara itu, eskalasi kasus dan kematian menunjukkan grafik naik yang menjulang.

Sebaran kasus dunia sudah menjangkau 192 Negara dari 198 Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sudah hampir menjangkau seluruh dunia. Jumlah kasus per hari ini, Selasa, 24 Maret 2020, sudah terdapat 392.169 orang, teridiri dari jumlah aktif virus sebanyak 272.181 orang, jumlah yang sembuh sebanyak 102.850 orang (38 %), dan jumlah yang wafat sebanyak 17.183 orang (6,3 %).

Sedangkan di Indonesia pada waktu yang sama, Selasa, 24 Maret 2020, tercatat kasus positif COVID-19 sebanyak 686 orang; terdiri dari jumlah aktif virus sebanyak 601 orang, yang sembuh sebanyak 30 orang (5,1 %) dan jumlah yang wafat sebanyak 55 orang (9,2 %).

Merujuk kepada data di atas, terlihat nyata dari angka kesembuhan yang sangat rendah pada kasus di Indonesia. Hal ini menunjukkan kerentanan yang serius dan butuh perhatian khusus. Sedangkan melihat angka meninggal dunia juga berada diatas rata rata global.

Kedua angka ini masih diatas Case Fatality Rate (CFR) 2 – 3%, maka Angka Kematian kasus virus Covid-19 Indonesia masih termasuk sangat tinggi dan kesembuhan sangat rendah. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah tingginya angka kematian pada kelompok usia pra-lansia (45-60 thn) dan lanjut usia (diatas 60 tahun).

Data diatas pada tempatnya menjadi perhatian serius bagi para penyelenggara negara dan masyarakat.

UPAYA APALAGI YANG BISA KITA LAKUKAN ?

Presiden Joko Widodo sudah meminta berulang kali agar seluruh rakyat Indonesia #dirumahsaja, belajar dirumah, bekerja dari rumah dan beribadah dirumah. Dan diperkuat dengan Social Distancing. Kemudian di ikuti beberapa rencana lain seperti Test Rapid mass dan Perluasan kemampuan pelayanan ruang isolasi dengan memanfaatkan Hotel Patrajasa, Wisma Atlet, dan lain-lain.

Namun banyak pihak khawatir melihat kerawanan yang nyata, melihat masih banyak kerumunan dimana-mana, berjubelnya pengguna moda transportasi umum seperti bus, kereta api, Komuter/ Light Rail Transit (LRT) dan pesawat terbang.

Sebahagian masyarakat pun mulai pesimis melihat konsep Jaga jarak serta lemahnya komitmen dan dukungan dari pengusaha dan perkantoran untuk program #dirumahsaja.

Saya baca beberapa tulisan, seperti virolog dari Universitas Queensland, yang mengkhawatirkan Indonesia bisa jauh lebih buruk. Beliau juga khawatir dengan akurasi laporan kejadian kasus, dibandingkan Singapore yang kecil tetapi ditemukan kasus 500-an, termasuk dari Indonesia.

Peneliti lain dari Jhon Hopkins, Toner, mengkhawatirkan Pandemi Covid-19 akan berjalan sampai 18 bulan dan bisa membunuh puluhan juta.

Pertarungan kuat-kuatan antara Manusia versus Covid-19 sangat bergantung kepada kepatuhan menjalankan Protokol Jaga Diri melalui konsep jaga jarak dan #dirumahsaja. Di samping ketergantungan pada kerentanan kasus dan juga kecepatan tindakan pelayanan kesehatan.

Sejumlah kasus tercatat menjadi fatal karena terlambat mengetahui, terlambat penanganan, sebahagian mengalami penolakan dari fasilitas kesehatan, kurangnya perbekalan kesehatan, kurangnya tenaga, kurangnya ruang isolasi, Alat Pelengkap Diri (APD), dan lain-lain.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) sudah membuat maklumat kepada kerumunan dengan ancaman pidana. Kata beberapa rekan, ancaman Pidana tidak pada tempat nya karena Penjara/ Lembaga Pemasyarakatan (LP) sudah penuh, malahan menjadi tempat paling riskan terpapar virus.

Di samping itu, Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) semua sedang operasi di lapangan, Rumah Sakit – Rumah Sakit  penuh. Perlu diskresi tindakan Hukum khusus yang cepat dan tepat membuat jera dan Patuh, untuk menjaga kenyamanan semua orang dan mengancam ketertiban masyarakat.

Kita harus dukung kebijakan Social Distancing dengan Law Enforcement yang kuat dan tegas.

BAGAIMANA MENJADI CERDAS MENGHADAPI COVID-19?

Virus Covid-19 ini cerdas sekaligus juga lemah, virus menjadi cerdas manakala kita lemah, sebaliknya virus menjadi lemah dan kalah jika kita cerdas.

Kerjasama Palang Merah Indonesia (PMI) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Islam), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) (Kristen), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) (Katolik), Parisada Hindu Dharna Indonesia (PHDI) (Hindu), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) (Budha), dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) (Khonghucu), di dukung potensi Dewan Masjid Indonesia (DMI), telah bergerak bersama melakukan bersih-bersih rumah-rumah Ibadah dengan Penyemprotan Desinfektan.

Lahan Markas PMI pun disulap menjadi tenda-tenda depo logistik, tempat motor penyemprot desinfektan, alat spray, bahan baku desinfektan, APD, hand sanitizer, logistik makanan, obat-obatan dan lain-lain serta sebagai tempat latihan tenaga volunter/ relawan dilatih oleh orang-orang profesional berpengalaman Bencana.

Tenaga volunter dari berbagai organisasi dan agama, belajar bersama, bekerjasama dan sama-sama melakukan kegiatan desinfektanisasi ke rumah-rumah ibadah semua agama.

Mereka tampak begitu kompak, bersahabat, dan bersemangat. Sungguh jelas tampak semangat kebhinnekaan mereka dalam kerja sama yang tulus dan membanggakan.

Kita juga salut dengan upaya dan perjuangan para dokter dan semua unsur kesehatan yang bekerja luar biasa, penuh tanggung jawab sekaligus penuh ketegangan dan keletihan. Sudah banyak korban dikalangan mereka.

Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa jumlah kematian Petugas Kesehatan yang menangani pasien virus Covid-19 cukup tinggi di Indonesia. Semoga yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

DARI PETA MONITORING COVID-19 MARKAS PMI.

Saya kemarin jalan ke Markas PMI, penasaran membaca banyak Whats App (WA) mengabarkan berbagai gerakan yang dilakukan PMI. Di sana, saya melihat Peta Monitoring Terkini persebaran virus COVID-19. Atas izin Bapak Arifin Muhammad Hadi, Kepala Divisi (Kadiv) Penanggulangan Bencana Markas Pusat PMI, dan ibu Eka Wulan Cahyasari, Kadiv Kesehatan dan Sosial Markas Pusat PMI, saya bisa melihat bebas.

Dari peta kejadian kasus virus Vovid-19 yang saya lihat di dinding Ruang Monitor Markas Pusat PMI (lihat gambar diatas), tampak ada 8 sampai 11 Provinsi yang masih bebas Virus. Dalam fikiran saya, di sini sudah tepat diberlakukan Lockdown Setempat agar tidak ada mobilitas orang lintas batas dari darat, laut maupun udara. Di dalam Provinsi tersebut, tetap bisa dilakukan Social Distancing.

Kita Persempit ruang sebar virus Covid-19.

KITA MASIH PUNYA HARAPAN.

PERKUAT KEBIJAKAN..

Jakarta, Halim, 24-03-20, Pukul 17.00 WIB

Bagikan ke :