IAI: Bangunan Masjid Harus Menyatu dengan Alam dan Masyarakatnya

IAI: Bangunan Masjid Harus Menyatu dengan Alam dan Masyarakatnya

DMINEWS, JAKARTA – Bangunan material masjid harus ramah dan menyatu dengan alam dan lingkungan sekitar. Inilah makna rahmatan lil a’lamin dalam desain, konsep dan aplikasi bangunan arsitektur masjid.

Ketua Umum Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI), Ir. H. Munichi B. Edrees, M.Arch, yang juga anggota dewan juri dalam Sayembara Desain Aritektur Masjid (SDAM), menyatakan hal itu saat diwawancarai DMINEWS, Kamis (30/4) siang, di sela-sela tahapan penjurian SDAM di Jakarta.

“Islam itu bersifat rahmatan lil a’lamin sehingga dalam mendesain masjid konsep dan aplikasinya harus mencerminkan prinsip itu,” tutur Munichi pada Kamis (30/4) siang.

Dari 145 karya desain arsitektur yang lolos seleksi awal dalam SDAM ini, lanjutnya, umumnya peserta sudah memiliki konsep yang bagus, tetapi aplikasi dalam desain masjid justru meninggalkan konsep rahmatan lil a’lamin itu.

“Banyak sekali peserta yang hanya fokus dengan konsep rahmatan lil alamin dalam hal tata ruang, bentuk banguan, tata bangunan, arsitektur, elemen-elemen, serta komponen-komponen di dalam masjid saja,” ungkapnya.

Tetapi, lanjutnya, desain arsitektur masjid mereka justru tidak bersifat rahmatan lil a’lamin dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Seharusnya, masjid itu menyatu dengan alam dan ramah dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

“Sebagai contoh, pilot project ini untuk masjid di desa, bukan masjid di kota. Jadi, building material atau bahan bangunan masjid yang digunakan sudah sepatutnya menyesuaikan dengan material apa yang ada di sana, harus sesuai dengan kondisi alam sekitar,” ungkapnya.

Menurutnya, jangan sampai bangunan masjid itu terkesan riya’, takabur, dan sombong terhadap masyarakat di sekitar masjid, di kecamatan Muara Gembong. Bangunan masjid harus sesuai dengan bagunan-bangunan penduduk di sekitarnya.

“Sebagai contoh, di Muara Gembong itu masih banyak fasilitas umum dan rumah-rumah penduduk yang hanya dibangun dengan anyam-anyaman bambu, dengan dinding-dinding hanya dari kayu atau bambu, bukan dengan bahan material modern dari besi, beton dan lain-lain,” jelas Munichi.

Jadi, dapat disimpulkan masjid dari bahan material beton dan besi tidak cocok dengan karakter masyarakat desa di Kecamatan Muara Gembong.

 

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Keterangan Foto: Tahapan Penjurian Sedang Berlangsung

Bagikan ke :