DMI.OR.ID, JAKARTA – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) Kelima Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk Palestina dan Al-Quds Al-Sharif (Masjidil Aqsha) telah berakhir pada Senin (7/3) petang.

KTT LB V OKI ini mengambil tema Bersatu untuk Solusi yang Tepat bagi Palestina dan Al-Quds Al-Sharif dan diselenggarakan di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta.

KTT ini juga menghasilkan Draft Deklarasi Jakarta untuk Palestina dan Al-Quds Al-Sharif yang terdiri dari 22 aksi konkrit. Berikut ini adalah 22 rencana aksi konkrit itu.

Pertama, negara-negara anggota OKI akan menyatukan upaya untuk mengakhiri pendudukan Israel terhadap Negara Palestina, yang telah diduduki sejak 1967, termasuk Al-Quds Al-Sharif. Kedua, memperluas dukungan penuh terhadap upaya-upaya politik, diplomatik, dan hukum untuk merealisasikan hak-hak rakyat Palestina yang tidakdapat dicabut.

Ketiga, menjaga kecusian dan status Al-Quds AL-Sharif dengan mengambil semua tindakan yang memungkinkan untuk mengakhiri pendudukan Israel, serta melanjutkan provokasi terhadap sensitivitas (kepekaan) Muslim di seluruh dunia dengan kebijakan-kebijakan ilegal Israel yang semakin berbahaya.

Misalnya, tindakan-tindakan yang dilakukan Israel untuk Yahudisasi Bangunan Masjid Al-Aqsha yang suci, termasuk dengan pembagian tata ruang dan waktu seperti membahayakan dasar bangunan Masjid Al-Aqsha melalui konstruksi dan penggalian ilegal di bawah dan di sekitarnya.

Keempat, mengambil langkah-langkah yang memungkinkan untuk mendukung keteguhan rakyat Palestina di wilayah Pendudukan Palestina, dan khususnya kota Al-Quds Al Sharif (Yerusalem Timur) yang dilanjutkan dengan melindungi identitas sejarah dan budaya Kota Suci.

Kelima, mendukung seluruh upaya Kerajaan Saudi Arabia, dibawah kepemimpinan Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Salman bin Abdul Aziz, yang berupaya untuk mempertahankan situs-situs suci Islam di Tanah Suci Al-Quds Al-Sharif.

Tepatnya, dengan menyediakan dukungan yang tulus dan terus-menerus terhadap kota suci, lembaga-lembaga dan penduduknya agar memungkinkan mereka untuk melawan pendudukan Israel sebagai upya Yahudisasi kota.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani