DMI.OR.ID, GAZA CITY – Innalillahi wa innalilahi Rooji’un, sedikitnya 84 warga Palestina syahid dan lebih dari 9.500 orang luka-luka, baik luka ringan maupun luka berat, sejak dimulainya Intifadha III 44 hari yang lalu. Dalam Intifdha III ini, seluruh rakyat Palestina, baik pria maupun wanita, tua maupun muda, berbondong-bondong melakukan perlawanan menghadapi militer zionis Israel.

Ketua koordinator Yayasan Daarul Qur’an Nusantara cabang Gaza, Palestina, H. Abdillah Onim, menyatakan hal itu dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID, Jum’at (13/11) malam, langsung dari Gaza City, Palestina.

“Sejak Intifadha III dimulai 44 hari yang lalu, 84 warga Palestina mengalami syahid, terdiri dari 18 orang bocah, lima orang muslimah, dua orang bayi dan seorang wanita hamil 7 bulan. Selain itu, lebih dari 9500 orang rakyat Palestina mengalami luka-luka dan menjadi korban penembakan militer Yahudi Israel, baik di Gaza maupun di Tepi Barat,” tutur Onim yang juga jurnalis Suara Palestine.

Menurutnya, hampir seluruh warga Palestina di wilayah Tepi Barat melakukan perlawanan terhadap militer Yahudi, termasuk di wilayah Gaza. Hari ini, setelah Sholat Jum’at (13/11), mayoritas warga Gaza melakukan aksi unjuk rasa dan menuju ke perbatasan antara Gaza dan Israel.

“Demonstrasi ini merupakan bentuk dukungan bagi saudara-saudara mereka yang ada di Tepi Barat, Palestina, untuk berjihad dalam Intifadha III. Kebiadaban militer Yahudi Israel tampak dari aksi mereka saat masuk dan mengobrak-abrik isi rumah sakit Al-Ahali di Tepi Barat pada Kamis (12/11),” jelasnya.

Bahkan, lanjutnya, militer Yahudi Israel juga menodongkan senjata ke kepala para dokter yang sedang bertugas melayani para pasien terluka. Tidak hanya itu, mereka juga menembak beberapa pasien yang sedang di rawat di rumah sakit hingga tewas. Salah satu pasien yang tewas di tembak itu bernama Abdullah asal Khalil, Tepi Barat, Palestina.

Saat ini, paparnya, kondisi Palestia semakin bergejolak, sedangkan negara-negara Eropa, Amerika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum ada tindakan atau solusi apa pun yang mengarah ke perdamaian di negara Palestina.

Reporter yang akrab disapa Bang Onim ini juga menyatakan kondisi Masjid Al-Aqsa Al-Mubarok sangat memprihatinkan karena semakin dikuasai oleh Israel. Mereka juga rutin menyerbu dan menodai masjid Al-Aqsa dibawah pengawalan ketat militer Yahudi israel.

Padahal, tuturnya, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam (SAW) pernah bersabda bahwa Setiap Muslim adalah bersaudara. Jadi mau dia hitam, putih, kaya, miskin, pejabat, atau rakyat jelata, tidak ada batasan wilayah atau bahasa.

“Ya kita semua bersaudara, tidak ada perbedaan. Hal yang membedakan hanya Iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sembari meletakkan tangan di Dada, Rasulullah SAW pernah bersabda: Dan Iman ada di sini, di dadaTidak lah beriman seseorang sebelum dia mencintai Saudara nya, seperti dia mencintai diri sendiri,” ucapnya.

Kalimat ini, imbuhnya, bukan hasil tulisan Bang Onim sendiri, melainkan Hadist Nabi Muhammad SAW. Ia pun merasa sangat beruntung dan patut bersyukur kepada Allah SWT karena bisa melihat dan merasakan apa yang mereka derita.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan mereka dalam membela hak-haknya. Alhamdulillah, bisa hidup di bumi yang diberkahi oleh Allah SWT, yaitu di Gaza, Palestina. Maka, sudah menjadi kewajiban kita untuk menghantarkan doa dan memberikan dukungan kepada rakyat Palestina, baik moril maupun materil,” ungkapnya.

Bahkan Bang Onim membuka Rekening Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina di Bank BNI Cabang Kramat Jati, Jakarta Pusat, dengan nomor: 69000-90001 Atas Nama (an) Abdilah Onim. Untuk konfirmasi, dapat menghubungi langsung nomor kontak Bang Onim: +972-59-805-8513

“Mari kita rapatkan saf, satukan hati dan misi untuk kejayaan agama Allah SWT dan Masjid Al-Aqsa Al-Mubarok. Membela Masjid Al-Aqsa adalah bagian dari esensi akidah serta Iman. Semoga do’a kita semakin memperkuat dan memperkokoh perjuangan rakyat Palestina untuk mempertahankan Masjid Alaqsa Al-Mubarok, awwalu kiblatain Syarifain, Aamiin.” tegasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani