DMI.OR.ID, JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Palestina, Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar konferensi bertajuk International Conference on The Question of Jerusalem : Addressing the Past and Shaping The Future of Jerusalem.

Dalam Konferensi internasional ini, PBB diwakili oleh United Nations Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People (UNCEIRPP). Tepatnya, dengan menghadirkan Wakil Ketua UNCEIRPP, Dr. H.E. Desra Percaya, S.IP, M.Sc., yang juga Duta Besar Tetap RI untuk PBB, sebagai narasumber utama (Key Note Speaker).

Sesuai dengan tema yang diangkat, Konferensi Internasional ini bertujuan untuk membahas dan mencari jalan keluar dan solusi dari berbagai problematika yang dialami Jerusalem pada masa lalu dan masa kini sembari berusaha maksimal untuk membentuk masa depan kota suci tiga agama itu.

Tanda tanya besar pun kerap menghampiri para peneliti, pakar, dan pemerhati Yerusalem di tengah-tengah konflik dan perperangan yang terus-menerus terjadi antara Israel dan Palestina, serta berbagai kepentingan internasional yang terkait dengan kota suci Al-Quds, Yerusalem.  

Konferensi internasional ini berlangsung selama dua hari di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Senin (14/12) hingga Selasa (15/12). Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, termasuk perwakilan PBB dan OKI.

Hadir pula delegasi dari negara-negara anggota PBB, Organisasi Non-Pemerintah (Ornop), dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), serta media dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pagelaran musik, seni, dan cerita rakyat, serta pemutaran film bertajuk Asayel Folklore Troupe yang diselenggarakan pada Selasa (15/12) malam di Concert Hall Balai Sarbini, Jakarta.

Konferensi Internasional ini turut menghadirkan beberapa pembicara dan narasumber utama seperti Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Dra. H.E. Retno Lestari Priansari Marsudi, S.IP, L.L.M., dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Palestina, H.E. Ir. H. Riyad al-Maliki, Ph.D.

Dua pembicara utama lainnya ialah Asisten Sekretaris Jenderal (Sekjen) untuk Urusan Palestina OKI, H.E. Mr. Samir Bakr, dan Koordinator PBB yang Berkedudukan di Indonesia, H.E. Mr. Douglas Broderick. Ia sekaligus mewakili Sekjen PBB, H.E. Mr. Ban Ki-moon, yang tidak dapat hadir.

Selain para narasumber utama, Konferensi Internasional ini juga menghadirkan sejumlah pakar dan ilmuwan yang memahami permasalahan Yerusalem dan Palestina dari sudut kelimuan masing-maisng.

Pada hari pertama, Senin (14/12), terdapat beberapa sub tema yang dibahas oleh masing-masing pakar yang hadir. Pertama, dibahas Kilasan Umum tentang Situasi Terkini dan Asal Mulanya (Genesisnya). Pembahasan ini meliputi tindakan-tindakan sepihak (unilateral) untuk mengubah karakter dan status Yerusalem, kebijakan Israel, dan tindakan di Tempat-Tempat Suci (Holy Sites).

Dua pakar yang hadir dalam pertemuan ini ialah Direktur Jenderal Al-Haq  Hukum dalam Pelayanan Manusia (Law in the Service of Man), Mr. Shawan Jabarin. Al-Haq merupakan Ornop atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Palestina yang bergerak dalam isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM). Saat ini, pembicara berdomisi di Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

Pembicara lainya ialah mantan Direktur Riset dan Publikasi Foundation for Middle East Peace,  Mr. geoffrey Aronson, yang juga mantan Editor majalah dua bulanan bertajuk Report on Israeli Settlements in the Occupied Territories atau Laporan Pemukiman Israel di Wilayah-Wilayah Pendudukan (Penjajahan). Saat ini, Geoffrey bertempat tinggal di Washington DC, Amerika Serikat.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani