DMI.OR.ID, SAMARINDA – Masjid Raya Darussalam di Samarinda, ibu kota Provinsi Kaimantan Timur (Kaltim), sangat fenomenal di kalangan penduduk dan tidak pernah sepi dari aktivitas syiar dan dakwah Islam.

Sangat wajar jika Masjid Darussalam berhasil meraih Peringkat Satu Nasional Bidang Imarah atau masjid paling makmur dengan berbagai kegiatan Islami pada 2014 silam. Masjid ini berlokasi di Jalan KH. Abdullah Marisie, Pasar Pagi, Smarinda Ilir, Samarinda dan merupakan masjid tersibuk di Indonesia.

Seperti dilansir laman http://kaltim.tribunnews.com, ribuan jemaah dari berbagai daerah di Kaltim kerap beribadah setiap hari di masjid dengan arsitektur model Turki ini sehingga masjid tidak pernah sepi.

Biasanya, memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, ratusan ummat Islam di Samarinda, Kalimantan Timur, melakukan i’tikaf di masjid, khususnya pada malam-malam ganjil. Masjid ini juga diramaikan kegiatan majelis taklim sepanjang hari, termasuk hari libur.

Ketua Yayasan Masjid Darussalam, Ustadz Ahmad Rasyidin Nahdi, menyatakan Masjid Raya Darussalam memiliki daya tampung hingga 15 ribu jama’ah. Masjid ini dikenal karena menjadi tempat berkumpulnya para ulama besar di Kaltim seperti KH. Abdullah Mariesie, KH. Abdul Rasyid, KH. Usman Ibrahim dan KH. Djaffar Sabran.

“Dulu, masjid ini berada di antara pusat-pusat kesibukan Samarinda yakni Komplek Citra Niaga, Pasar Pagi, dan Dermaga Samarinda. Dulu dermaga itu tidak pernah sepi karena orang mau kemana-mana pakai perahu,” ujar Ustad Ahmad Rasyidin pada Rabu (24/6).

Sejak dahulu sampai saat ini, lanjutnya, masjid ini menjadi tempat berdiskusinya para ulama besar di Kaltim, sehingga tidak heran masjid ini juara 1 nasional soal kemakmuran masjid ini. Bahkan beberapa tahun lalu, masjid dengan kubah berwarna hijau ini sempat dikunjungi mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menggelar Safari Ramadhan.

Dahulu, masjid ini dikenal pula dengan nama Masjid Jami’ dan didirikan tahun 1920 di Tepian Mahakam, tepatnya di Jalan Yos Soedarso. “Dulu bangunan masjid itu dari ulin dan atap sirap,” paparnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani