DMI.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah menyelenggarakan acara Peringatan 50 Tahun Milad Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada Kamis (22/7) di Gedung DMI Pusat, Jakarta. Acara ini mengangkat tema: “Peace Message From Indonesian Mosques To The World” atau “Pesan Damai dari Masjid Indonesia untuk Dunia”.

Dalam acara ini, secara khusus Ketua Umum PP DMI, Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, M.B.A., mengundang para duta besar (dubes) atau perwakilan dubes dari negara-negara sahabat di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau Oganization of Islamic Coperation (OIC) dan negara pengamat OKI.

Turut hadir para dubes atau perwakilan dubes dari 21 negara untuk RI,  Kerajaan Arab Saudi, Republik Arab Mesir, Republik Federal Nigeria, Malaysia, Kesultanan Oman, Republik Islam Pakistan, Negara Qatar, Kerajaan Maroko, Republik Sudan, Republik Irak, Kerajaan Bahrain, Negara Palestina, Republik Azerbaijan, Republik Islam Iran, Republik Islam Mauritania dan Republik Arab Suriah.

Hadir pula para dubes dari Brunei Darussalam, Negara Kuwait, Republik Turki, Republik Bosnia dan Herzegovina, Republik Federal Somalia, dan Negara Kuwait.

Dalam kegiatan ini, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Ke-10 dan Ke-12, H. Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, telah berbagi pengalaman saat memimpin DMI selama hampir 10 tahun terakhir, sejak tahun 2012 lalu.

“DMI merupakan organisasi payung yang menaungi lebih dari 800.000 masjid dan musholla di seluruh Indonesia. DMI telah bekerja untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi komunitas masjid dengan visi Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid,” jelasnya.

Dalam acara ini, turut hadir dua orang Wakil Ketua Umum PP DMI, yakni Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., dan Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi (Pol.) Dr. (H.C.) Drs. H. Syafruddin Kambo, M.Si. Adapun yang menjadi Dean of Diplomatic Corps of Islamic Countries dan turut hadir dalam acara ini ialah Dubes Kesultanan Oman untuk RI, H.E. Ambassador Nazar bin Ali Julanda bin Majid Al Said.

Menurut Ketua Umum PP DMI, H. Muhammad Jusuf Kalla, acara silaturahmi ini bertujuan untuk lebih memperkenakan DMI ke seluruh dunia, termasuk membuka jalan untuk meningkatkan kerja sama bagi kemakmuran masjid di seluruh dunia.

Acara silaturahmi ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Milad Ke-50 Tahun DMI yang puncak acaranya akan diselenggarakan pada Senin (27/6) di Gedung DMI Pusat.

Rangkaian acara lainnya dari Peringatan Milad Ke-50 Tahun DMI ialah  Penyerahan DMI Award pada Senin (27/6) mendatang, Musabaqah Azan Nasional (MAN) I Tahun 2022 yang telah terlaksana di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat (17/6), serta Konferensi Masyarakat Masjid Association of South East Nations (ASEAN) yang akan diselenggarakan pada Rabu (20/7) mendatang.

Lebih jauh, tokoh perdamaian global kelahiran Watampone, 15 Mei 1942 itu, juga menceritakan pengalamannya saat bertemu Raja Arab Saudi, Khadimul Haramain, Raja Salman Bin Abdul Aziz Al Saud, sewaktu berkunjung ke Jakarta, Indonesia, pada Maret 2018.

“Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud dari Kerajaan Arab Saudi merasa terkejut saat mendengar kabar tentang jumlah masjid dan musholla yang tersebar di seluruh Indonesia, yakni lebih dari 800.000. Dengan jumlah yang sangat besar ini, masjid harus mampu mendorong kehodupan masyarakat agar menjadi lebih baik  dalam berbagai aspek,” jelasnya.

Wapres RI Ke-10 dan Ke-12 yang akrab disapa JK ini lalu menceritakan aturan tentang hari kerja di Indonesia, yakni lima hari, Senin hingga Jumat, dengan hari libur selama dua hari, Sabtu dan Ahad.

“Dampaknya, salat Jumat berlangsung pada hari kerja. Para karyawan pun tidak sempat untuk salat Jumat di masjid dekat rumah. Konsekuensinya, masjid dan musholla ada dimana-mana seperti di kantor, di sekolah, di mal, bahkan di SPBU. Hal ini tentu berbeda  dengan aturan di negara-negara Islam lainnya yang menetapkan hari Jumat sebagai hari libur kerja,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, 90 persen masjid di Indonesia itu ialah milik masyarakat, jamaah masjid, sehingga bersifat independen. Hanya 10 persen masjid yang merupakan milik pemerintah.

“Bahkan pengurus masjid menyelenggarakan berbagai kegiatan syiar Islam seperti pelatihan bagi dai, khatib dan imam masjid, selaku juru dakwah, serta meningkatkan taraf hidup marbut dan jamaah masjid,” ucap pria yang akrab disapa Daeng Ucu ini.

H. Muhammad Jusuf Kalla pun mengajak para pengurus masjid untuk aktif menjadikan masjid-masjid sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pembedayaan ekonomi umat. Misalnya seperti di Masjid Al-Azhar, Kebayoran, Jakarta Selatan, Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, dan Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) di Jakarta Pusat.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani