DMINEWS, JAKARTA – Masjid yang berkualitas baik tidak sekedar mementingkan bangunan fisik dan desain arsitektur, tetapi harus menjadi milik masyarakat di sekitarnya.

Dalam hal ini, konsep masjid yang rahmatan lil a’lamin dalam bentuk kearifan lokal, rasa kepemilikan masyarakat terhadap masjid (self of belonging) dan pemberdayaan masyaraat (bottom up) menjadi sangat penting.

Ketua Umum Ikatan Arsitek indonesia (IAI), Ir. H. Munichi B. Edrees, M.Arch, yang juga anggota dewan juri Sayembara Desain Arsitektur Masjid (SDAM), menyatakan hal itu saat diwawancarai DMINEWS, Kamis (30/4) siang.

“Seharusnya, masjid dibangun dengan cara swadaya masyarakat, jadi mereka bergotong royong membangun masjid sehingga memiiki self of belonging (rasa memiliki sendiri),” tutur Munichi pada Kamis (30/4) siang.

Apalagi masjid Nurul Amal yang menjadi pilot project (percontohan) berlokasi di pedesaan, kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, yang masih serba kekurangan dan masyarakatnya hidup sederhana.

“Kalau masyarakat sudah timbul rasa memiliki, insya Allah masjid akan makmur dengan sendirinya. Jadi masjid itu harus bottom up (gotong royong), jangan top down(terima jadi),” paparnya.

Contohnya, di masa lalu ada masjid-masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (ABMP).  Masjid-masjid itu, lanjutnya, bersifat top down karena hanya dibangunkan saja.

Masyarakat setempat pun tidak dilibatkan sama sekali dalam proses dan perencanaan pembangunan masjid-masjid itu. Akibatnya, lanjut Munichi, meskipun masjid itu makmur namun tidak ada rasa memiliki oleh masyarakat sekitar.

Menurutnya, bangunan masjid harus murah tetapi tidak murahan, luxurious but simplicity, sederhana dalam material tetapi mewah dalam hal desain.

“Allah SWT itu maha indah dan sangat mencintai keindahan. Namun, indah tidak harus mahal. Hal penting lainnya ialah pemberdayaan masyarakat sekitar dalam pembangunan masjid,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, lanjutnya, warga desa di sekitar masjid Nurul A’mal, Muara Gembong, harus diberdayakan melalui pembangunan masjid.

“Secara umum, orang-orang kota itu berbeda dengan orang desa. Orang-orang desa umumnya masih memiliki sifat dan karakter gotong-royong serta tolong-menolong. Hal ini perlu diperhatikan para arsitek,” ungkapnya.

 

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Keterangan Foto: Tahapan Penjurian dalam SDAM