DMI.OR.ID, YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) segera mewujudkan pendirian Pusat Penanganan Kardiovaskular dan Kanker (PPKK) di lingkungan Muhammadiyah, bekerjasama dengan Universitats Klinikum Munster (UKM), Jerman.

Rencananya, PPKK ini sudah dapat beropersi pada November 2015 mendatang, sebagai tindak lanjut dari kerja sama keduanya dalam workshop terkait berbagai isu kanker dan jantung. PPKK juga bertujuan membantu menjalankan program-program penanganan berbagai kasus kanker dan jantung di Indonesia secara holistik dan komprehensif.

UMY pun telah meminta masukan kepada Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (26/5) di Kantor Kepatihan Yogyakarta guna melancarkan rencana itu. Seperti dikutip laman www.muhammadiyah.or.id, Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) X sangat mendukung penuh jalinan kerja sama antara UMY dan UKM Jerman dalam mendirikan PPKK di Yogyakarata.

“Saya mendukung penuh. Namun, ada beberapa hal yang peru diperhatikan, yakni terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Perlu adanya standarisasi dan kualifikasi tertentu dalam menempatkan dokter atau perawat dalam desk itu. Pelatihan dan penyeleksian sangat diperlukan dalam pemilihannya,“ tutur Sri Sultan HB X.

Antisipasi dalam merekrut calon dokter dan perawat ketika dimasukkan dalam desk itu harus dilakukan. Hal Ini, lanjutnya, sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.

“Seperti yang terjadi di Medan, ketika itu beberapa calon dokter dan perawat yang direkrut kemudian diberi pelatihan atau traning dan segala macamnya selama satu tahun. Ketika masa pelatihan akan berakhir, akhirnya mereka malah pindah ke Jakarta. Hal ini perlu kita hindari dan harus hati-hati,“ ungkapnya.

Calon dokter atau perawat yang akan tergabung dalam desk itu, jelasnya, juga perlu mendapatkan pelatihan dan training khusus. Hal ini bermanfaat Untuk menghindari kaburnya mereka, seperti pada kasus di Medan.

“Perlu adanya pengikatan atau pengontrakan untuk calon dokter dan calon perawat. Ketika masa pelatihan selesai, mereka tetap harus mengabdi di sana. Jadi, PPKK bisa berjalan sebagaimana mestinya,“ jelas Ngarso Dalem itu.

Menurutnya, hal terpenting saat ini terkait dengan kapasitas keperawatan yang ada di setiap rumah sakit. Jadi, bukan hanya dokter saja yang perlu mendapatkan perhatian khusus, tetapi juga perawat.

“Masih banyak perawat di Indonesia yang belum memiliki kemampuan baik dalam memberikan perawatannya, tidak seperti yang ada di luar negeri. Mereka memiliki kemampuan yang lebih baik dari pada perawat yang ada di Indonesia,” terangnya.

Jadi, jelasnya, perlu adanya training khusus yang diberikan kepada calon perawat di PPKK. Diperlukan juga jalinan kerja sama internasional keperawatan dengan Jerman. “Hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan para perawat Indonesia,” ujarnya.

Perawat Indonesia harus sebanding kualifikasinya dengan para perawat Jerman. Selain itu, perlu juga adanya karakteristik perawat. Misalnya, jelas Sultan, ketika ada pasien yang harus diinfus atau dicek kondisi tubuhnya, seharusnya bukan dokter yang melakukan tetapi perawat. “Hal kecil inilah yang perlu diperhatikan,“ paparnya.

Audiensi ini dilakukan untuk meminta izin kepada Ngarso Dalem karena pihak UMY akan datang ke Jerman untuk membicarakan kelanjutan kerja samanya. UMY juga meminta dukungan penuh dari Ngarso Dalem agar kerja sama ini bisa berjalan baik.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani