DMI.OR.ID, NEW YORK – Innalillahi Wa innalillahi Rooji’un, segenap keluarga besar Dewan Masjid Indonesia (DMI) turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya 717 jama’ah haji dan 863 jama’ah luka-luka, baik luka berat maupun luka ringan, akibat terjadinya tragedi di Mina, Makkah, Saudi Arabia, pada Kamis (24/9) pagi waktu setempat. Akibat tragedi ini, tiga jama’ah haji asal Indonesia wafat.

Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), DR. H. Muhammad Jusuf Kalla, menyatakan turut berbelasungkawa atas seluruh korban yang wafat, akibat tragedi di Mina, Saudi Arabia. Wapres juga mendo’akan para korban yang meninggal dunia (syahid) maupun yang mengalami luka-luka.

“Tentunya, kita do’akan para korban yang meninggal dunia, tetapi soal korban WNI yang meninggal, ini masih simpang siur,” tutur Wapres Kalla pada Kamis (24/9), usai shalat Idul Adha di Masjid Al-Hikmah, New York, Amerika Serikat, seperti dikutip laman www.antaranews.com.

Wapres yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah haji dan insfrastrukturnya sudah semakin baik setiap tahunnya. Namun, jumlah jamaah haji yang datang terus bertambah sehingga timbulnya persoalan sedikit saja dapat berakibat fatal.

“Terkait berita soal Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban, jumlahnya masih simpang siur,” paparnya.

Wapres Kalla juga berharap tidak banyak WNI yang menjadi jadi korban dalam musibah Mina, baik yang wafat maupun luka-luka. “Pemerintah Indonesia terus menunggu kepastian tentang kabar ini. WNI pun harus tetap menjaga persatuan dan bisa menjaga nama baik bangsa Indonesia di mana saja,” ujarnya.

Saat ini, Wapres Kalla dan rombongan berada di New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa.

Dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID,  Jum’at (25/9) pagi, dari Makkah, Saudi Arabia, Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), Drs. H. Slamet Effendy Yusuf, M.Si., menyatakan hingga saat ini, sudah dua orang jama’ah haji asal Indonesia yang syahid dan telah terdentifikasi, sedangkan seorang lagi belum dapat teridentifikasi karena tidak ada gelang  jama’ah Indonesia.

“Jama’ah haji asal Indonesia yang syahid yakni almarhum Hamid Atwi Tarji Rofia (51 tahun), laki-laki, lahir di Probolinggo, 3 Mei 1964, kelompok terbang (kloter) SUB 48, Maktab 2, dengan nomor paspor B1467965 dan beralamat di Dusun Timur II, RT 19, RW 04, Kelurahan Muneng Kidul, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur,” tutur Kiai Slamet pada Jum’at (25/9) pagi.

Jama’ah lain yang syahid, lanjutnya, yakni almarhumah Busyaiyah Sahrel Abdul Gafar (50 tahun), wanita, lahir di Teluk Durian, 21 Maret 1965, kloter BTH14, Maktab 1, dengan nomor paspor A2708446 dan beralamat di Jalan Muhamad Hambali No. 6, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam rilisnya kepada DMI.OR.ID, Kamis (24/9), Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, H. Fahri Hamzah, S.E., yang juga ketua rombongan Pengawas Haji DPR RI tahun 2015, turut menyatakan belasungkawa kepada seluruh korban tragedi Mina, Saudi Arabia.

“Secara kronologis, tragedi Mina mungkin terjadi akibat penumpukan jama’ah haji yang seolah-olah tidak diatur dan tidak bisa dihindari dalam menjalankan setiap prosesi ibadah haji. Pasalnya, hanya prosesi wukuf di Arofah yang disepakati sebagai titik dimana jama’ah haji dari seluruh negara dan madzhab berkumpul di Arofah pada Rabu, 9 Dzulhijah (23/9),” tutur Fahri pada Kamis (24/9).

Menurutnya, apa yang terjadi setelah ibadah wuquf di Arofah tidak diatur regulasinya, tidak dikomunikasikan secara ketat dan diserahkan pada masing-masing negara, bahkan kepada masing-masing jama’ah.

Akibatnya, lanjut Fahri, berbondong-bondonglah jama’ah yang ingin segera menuntaskan rukun wajib haji ke Mina, untuk segera melontarkan jumroh pada saat yang sama. “Hal inilah yang terjadi di jalur musibah (Jalur 204) itu,” ungkapnya.

“Dapat dipastikan jama’ah haji yang menjadi korban adalah mereka yang memutuskan untuk berangkat melontarkan jumrah sehabis sesudah sholat Shubuh, karena kejadiannya sekitar Pukul 09.00 waktu setempat. Padahal di Masjidil Haram, saat yang sama, masih ada jama’ah haji yang Sholat Idul Adha,” ujarnya.

Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, jelasnya, sepatutnya membangun banyak jalur setelah kejadian (musibah) Mina yang telah menean korban hampir 1.500 orang pada tahun 1990 silam. “Namun, rasanya pergerakan jama’ah masih sangat tidak terkendali dan tidak terfasilitasi,” ungkapnya.

Fahri Hamzah pun menyarankan Pemerintah RI untuk mengambil inisiatif (selayaknya) mendesak Pemerintah Saudi Arabia guna membicarakan penyelenggaraan haji secara bersama-sama. “Khususnya, pasca trgedi jatuhnya alat berat crane di Masjidil Haram dan tragedi Mina,”  jelasnya.